Tentang Outsourcing

Aku punya posisi yang ambivalen tentang outsourcing. Tapi mari aku jelaskan kira-kira gimana sih outsourcing dari sisi perusahaan dan karyawan.

Dari sisi perusahaan:

Dari sisi perusahaan outsourcing ini sangat seksi untuk bidang non-core dan bidang padat karya.

Dengan outsourcing perusahaan bisa fokus di bidang-bidang yang dianggapnya penting. Misal, soal akunting dan HR bisa di-outsourcekan karena tidak strategis atau bidang customer service. Nah, sekarang tahu kan, kalau perusahaan customer service-nya di-outsource maka bisa kata perusahaan itu, “Aku nggak peduli sama pelanggan yang punya keluhan, kalian bayar aku saja dan biar orang lain yang menangani keluhan kalian.”

Hal kedua adalah outsource ini mengurangi overhead yang terjadi jika perusahaan menambah atau mengurangi karyawan. Untuk karyawan tetap hal ini susah karena untuk mendepak mereka butuh pesangon lumayan dan untuk karyawan kontrak kudu ada uang putus kontrak, sementara outsource, tinggal dikembalikan ke penyedia jasa outsource. Dan untuk menambah karyawan outsource juga gampang, tinggal minta penyedia menyediakan sekian karyawan, selesai.

Untuk posisi yang dianggap gampang diganti, outsource ini bagai penyelamat perusahaan karena jika karyawan outsource yang sekarang dirasa gajinya terlalu besar diganti aja dengan yang junior dan gajinya masih freshgrad. Posisi-posisi yang gampang diganti diantaranya: pekerja pabrik, satpam, cleaning service, sekretaris, teller bank, surveyor, programmer dan bagian administrasi.

Hal ini adalah hal buruk untuk karyawan. Menjadi gampang digantikan adalah hal buruk. Mereka menjadi komoditas. Tidak ada lagi kisah CEO yang mengawali karirnya dari jadi petugas kliping koran karena saat sang petugas kliping koran mulai berpengalaman dan gajinya merangkak naik, dia dipecat dan diganti oleh petugas kliping koran lain yang lebih junior.

Oke, itu dari sisi karyawan outsource kerah putih, bagaimana dengan yang kerah biru macam pekerja pabrik?

Kalau dari kacamata pragmatis jawabannya sederhana: “Mereka bebas untuk tidak bekerja untuk PT xxx.”

Tapi, tidak sesederhana itu. Mencari kerja itu susah dan sebagai low skilled worker mereka tidak punya banyak pilihan dan posisi mereka lemah.

Itulah kenapa akhirnya timbul serikat pekerja. Mereka berusaha meningkatkan posisi tawar dengan berserikat dan berkumpul, mengancam mogok massal dan membuat posisi tawar mereka meningkat.

Di sisi lain, meningkatnya daya tawar secara ekstrim membuat bisnis susah berkembang karena biaya pegawai yang tinggi. Salah satu penyebab mundurnya industri otomotif di AS karena margin tipis karena kudu bersaing dengan mobil jepang yang murah dan gaji karyawan terlalu tinggi dan susah melakukan pengurangan karyawan.

Jadi?

Outsource masih akan menjadi fenomena di ranah ketenagakerjaan di Indonesia. Intinya adalah bagaimana membuat peraturan yang fair bagi pekerja dan pengusaha.

#kesimpulanbasi

About dnial

You don't see anything You don't hear anything You don't know anything Move along and pretend nothing happen

Posted on 24 Februari, 2012, in career, experience, life. Bookmark the permalink. 11 Komentar.

  1. Informatif sekali. Tapi sebentar, Bung Dan. Agaknya standpoint buruk tak hanya bagi karyawan yang terkena imbas outsourcing, seperti petugas kliping pada contoh Anda. Standpoint was-was pun ada pada pekerja outsourcing itu sendiri. Mereka yang sadar benar bahwa mereka hanyalah “alat” yang sedang disewa dalam jangka waktu pendek, pastinya sama gusar.

  2. Kesimpulan basi memang, tapi ya cuma itu jalan tengah sementara ini. Mau menghapus outsourcing? Lalu mau ditampung kemana para pencari kerja? Mau menerima semua outsourcing? Kembali lagi: mau ditampung dimana semua pencari kerja? Ini dilema juga sih benarnya, terutama dengan mentalitas yang lebih suka jadi pekerja bergaji daripada bikin lahan kerja sendiri.

    Serba salah soal outsourcing ini. Tidak di Indonesia, tidak di negara lain.😕

  3. Perusahaan saya juga pake outsourcing. Kasian mas.. Kerjaan sama dengan karyawan tetap, tapi gaji cuma separonya.

  4. Hm. Ternyata bang BCA pun bersistem outsourcing. Pegawai yang pakai baju kuning itu katanya outsorce.

  5. ya karena kowe sudah mengangkat outsorcing dengan posisi pekerja sebagai “korban” Dan…. sekarang aku mau jadi penjilat dan mengangkat outsorcing dari sisi para pengusaha/employer😛

    gak mungkin ada asap tanpa ada api, munculnya sistem otsorsing ini kan bisa dibilang baru baru saja, tidak sampai 20 tahun toh? bandingkan dengan sistem pegawai tetap yang sudah ada sejak jaman bung karno😛 lihat saja betapa perusahaan/employer kesulitan menindak tegas para pegawai tetap yang “mokong” karena mereka tidak bisa dipecat sembarangan….

    banyak sekali pegawai yang mentang-mentang sudah jadi pegawai tetap malah kerjanya jadi seenaknya sendiri, contoh paling gampang, lihat saja PNS… lebih spesisifk lagi, lihatlah para guru guru sekolah negeri atau pegawai pelayanan publik (ya mungkin/pasti termasuk saya😛 )… silahkan tuduh saya melakukan generalisir buta… tapi saya yakin seyakin yakinnya bahwa guru yang niat ngajar seperti oemar bakri dibanding yang gak niat ngajar atau pegawai layanan publik yang berniat tulus melayani masyarakat dan tidak pasti timpang😛, mereka santai santai saja mengorbankan murid-muridnya/masyarakat yang butuh pelayanan karena tidak kuatir dipecat selama absen jalan terus dan tidak tersangkut kriminal😛 di swasta pun banyak kasus seperti itu dan hal ini sudah berjalan beberapa dekade sejak jaman mbah mbah dulu, dan kini dirasa otsors bisa menjawab sebagian kekhawatiran itu meskipun menghasilkan beberapa “collateral damage” hehehe

  6. kunjungan siang…salamkenal mas….nitip infoyah semoga bisa bermanfaat

    http://www.batu-mustika.indonetwork.co.id/benda-pusaka.htm

  7. hmmm menarikk trutama potongan yang mencapai stengah gaji, kasian bgt emmg, tapi konsep yang uda salah ini harus di benerin lagi, sebenarnya dengan pengaturan dana yg benar n bersih pemotongan dari outsourcer ga usah sebesar itu, kira2 10% uda lebih dari cukup…
    skalian iklan neh, aku mo buka jasa outsource jg dengan pemotongan yg g besar2 amet, kalo mo tanya lebih detil bisa tanya ke fb Biro Jasa Kimberly RBC ato grup Kimberly Royal Business Club.

  8. Serba salah, Outsourcing Indonesia juga mendapat gaji yang kecil, sama saja seperti karyawan tetap. Jadi tidak ada bedanya menurut saya.

  9. Nimbrung ya…..
    Msh mending kalo gaji separuh dr gaji karyawan, nyataannya gaji hny UMR + 50 s/d 100rb sj, ga dpt cuti, ga dpt tunjangan, bahkan jamxxxtek punn ga dpt. Ada jg kalo pas ada acr dikntr mis.tuker2 kado pas akhr taon jg dibedakan, jd merasa sngt direndahkan. Pdhal slama ini outrource bekerja seaksimal mngkn. Ya……. tp bgmn lg, dr pd ga bekerja, akhrny ikt jd outsource jg.

  10. Begitulah outsource, perusahaannya senditi ngambil untung dari SDM nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: