Monthly Archives: Juni 2013

Man of Steel: Fundamentalisme dan Free Will

General Zod: No matter how violent, every action I take is for the greater good of my people.

Hari Rabu yang lalu aku menyempatkan diri untuk nonton Man Of Steel di biosokop dengan istri. Ini adalah salah satu film yang ditunggu-tunggu karena meski aku tidak terlalu ngefans dengan Superman, ide ceritanya cukup menarik. Dan film ini memang tidak mengecewakan walau bisa lebih baik lagi.

Ini adalah review film dan sedikit renungan, ada banyak spoiler di sini.

Man-of-Steel-EW-1Sebagai penonton, kita akan selalu membandingkan film Man of Steel dengan tipikal film superhero lainnya seperti trilogi Ironman, Captain America ataupun trilogi Batman. Jika kita bandingkan maka kualitas Man of Steel sedikit di bawah film-film superhero lainnya.

Sebenarnya susah juga sih bikin film Superman, susah untuk mencari penjahatnya karena Superman ini super-duper kuat dan punya kualitas manusia ideal, kuat, baik hati, tidak sombong dan suka menolong. Menelusuri masa mudanya pun tidak menarik, meski sering dibully dia masih terlihat sebagai moral high-ground, tidak membalas meski punya kekuatan luar biasa. Artinya susah mencari ambiguitas moral di cerita Superman. Beda dengan Batman yang yatim dari kecil dan ingin membalas dendam pada para penjahat Gotham atau Ironman yang alkoholik dan suka main wanita atau Captain America yang walau punya moral high-ground tidak didukung dengan kekuatan. Superman is too perfect.

So, akhirnya mereka mengeksplorasi sisi “dewa” bagi manusia. Superman di sini diposisikan sebagai seorang Mesias dan sebagai upaya untuk memberi kredibilitas, usianya 33 tahun saat event utama film ini berlangsung, sama dengan usia Yesus saat disalib. Read the rest of this entry