Man of Steel: Fundamentalisme dan Free Will

General Zod: No matter how violent, every action I take is for the greater good of my people.

Hari Rabu yang lalu aku menyempatkan diri untuk nonton Man Of Steel di biosokop dengan istri. Ini adalah salah satu film yang ditunggu-tunggu karena meski aku tidak terlalu ngefans dengan Superman, ide ceritanya cukup menarik. Dan film ini memang tidak mengecewakan walau bisa lebih baik lagi.

Ini adalah review film dan sedikit renungan, ada banyak spoiler di sini.

Man-of-Steel-EW-1Sebagai penonton, kita akan selalu membandingkan film Man of Steel dengan tipikal film superhero lainnya seperti trilogi Ironman, Captain America ataupun trilogi Batman. Jika kita bandingkan maka kualitas Man of Steel sedikit di bawah film-film superhero lainnya.

Sebenarnya susah juga sih bikin film Superman, susah untuk mencari penjahatnya karena Superman ini super-duper kuat dan punya kualitas manusia ideal, kuat, baik hati, tidak sombong dan suka menolong. Menelusuri masa mudanya pun tidak menarik, meski sering dibully dia masih terlihat sebagai moral high-ground, tidak membalas meski punya kekuatan luar biasa. Artinya susah mencari ambiguitas moral di cerita Superman. Beda dengan Batman yang yatim dari kecil dan ingin membalas dendam pada para penjahat Gotham atau Ironman yang alkoholik dan suka main wanita atau Captain America yang walau punya moral high-ground tidak didukung dengan kekuatan. Superman is too perfect.

So, akhirnya mereka mengeksplorasi sisi “dewa” bagi manusia. Superman di sini diposisikan sebagai seorang Mesias dan sebagai upaya untuk memberi kredibilitas, usianya 33 tahun saat event utama film ini berlangsung, sama dengan usia Yesus saat disalib.

Clark Kent di awal cerita dikisahkan sebagai pengelana, bekerja serabutan dari kota ke kota, dari kapal ke kapal dan setelah menolong orang akan menghilang tanpa jejak. Sampai akhirnya dia menemukan pesawat dari Krypton di Antartika dan dia dijelaskan jati dirinya dan asal-usulnya oleh Jor-el versi komputer, ayahnya yang telah mati.

Setelah itu, dunia dikejutkan dengan kedatangan Jenderal Zod, pemimpin militer Krypton. Setelah berkelana dari planet ke planet selama 30 tahun akhirnya berhasil mendarat di bumi. Dan Zod meminta umat manusia untuk menyerahkan Kal-El, sang Superman atau Clark Kent, ke dirinya. Lalu Clark Kent berkonsultasi pada pendeta saat akan menentukan apakah dia harus menyerahkan diri atau tidak, sang pendeta berkomentar, “Take the leap of faith”. Ini adalah bukti bahwa Yesus adalah Tuhan bagi manusia dan alien. :p

Superman sendiri akhirnya menyerahkan diri kepada militer manusia untuk ditentukan nasibnya seperti apa.  Akhirnya, mereka menyerahkannya ke Zod. Zod sendiri ternyata berencana untuk membangkitkan kembali bangsa Krypton di bumi dan memusnahkan umat manusia.

Dari konsep cerita dan teknik penceritaan film ini cukup bagus. Film ini menghindari menceritakan kisah hidup Clark Kent dengan panjang lebar, memilih lewat potongan flashback Clark Kent di masa-masa penting di hidupnya. Penggambaran kisah di Krypton juga cukup efisien meski menurutku kurang. Aku malah lebih tertarik untuk tahu seperti apa rivalitas Jor-el dan Jenderal Zod di Krypton. Mungkin kudu ada film The Legend of Jor-el. Menurutku penggambaran dunia Krypton itu sangat menarik. Persenjataan, pesawat, teknologi dan mahluk-mahluk di dalamnya eksotik, misterius dan layak untuk diceritakan.

Dan yang kurang dieksplor dalam film ini menurutku adalah soal tabrakan filosofi Superman dan Jenderal Zod. Superman adalah perwakilan dari Free Will, Krypton pertama yang dilahirkan normal selama ribuan tahun. Jadi, keturunan bangsa Krypton selama ini berasal dari Genesis Engine, sebuah alat untuk mencloning bangsa Krypton dan memberikan mereka gen sesuai fungsinya di masyarakat. Jenderal Zod adalah perwakilan dari Determinism, dilahirkan, dilatih dan mengabdikan diri sebagai prajurit bangsa Krypton. Filosofi keduanya bertabrakan saat mereka bertarung. Sayangnya, debat ini tidak dieksplor lebih lanjut dalam dialog-dialog kedua tokoh ini. Penulis film lebih memilih untuk mengeksplorasi visual pertarungan mereka yang epic.

Meski dari sisi visual bagus dan penceritaan yang efektif dan efisien, film ini kurang bagus dalam membangun klimaks.  Sisi filosofis  dan drama dalam film ini pun kurang tereksplorasi dengan baik sehingga terasa dangkal.

About dnial

You don't see anything You don't hear anything You don't know anything Move along and pretend nothing happen

Posted on 21 Juni, 2013, in life. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. MoS memang di luar ekspektasi saya yg awam komik. Sesama reboot, cerita The Dark Knight lebih berhasil memukau saya. Mungkin mata saya belum terbiasa melihat Superman berbrewok dan tanpa poni kliwir..😄

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: