Tentang Kompleksitas Hidup

Sudah beberapa kali aku berpindah tempat tinggal. Dari Surabaya ke rumah paman di Bekasi, dari Bekasi ke kos di daerah Kebagusan, Jakarta Selatan, saat sebelum menikah pindah dari kos ke Apartemen Gading Nias dan sekarang dari Apartemen Gading Nias ke rumah mertua di Pulomas. Dan besok, hijrah ke negeri orang bersama Priska.

Dan aku perhatikan barang yang aku bawa setiap kali pindah semakin banyak. Saat aku pindah ke apartemen aku harus menyewa mobil boks, tapi proses pindahannya sendiri hanya satu-dua jam. Tapi, proses pindahan ke rumah mertua ini yang membuatku geleng-geleng kepala.

Proses pindahannya cukup lama, mengangkut barang-barang ke pickup yang menunggu di bawah seakan tidak selesai-selesai. Banyak sekali barang yang kita pindahkan, itupun sudah dicicil selama sebulan terakhir.

Dalam kesibukan mengangkut kontainer, tas dan rice cooker ke atas pickup aku berpikir, “hidup kami semakin kompleks ternyata.” Dari jaman dahulu yang hidupku bisa disederhanakan dengan baju, buku dan laptop sekarang harus memindahkan rice cooker, sepatu yang satu kontainer penuh (sepatuku cuma 5 pasang sih, sisanya punya Priska), satu kontainer peralatan dapur dan banyak sekali bahan makanan.

Aku berpikir tentang para wartawan yang hidupnya berpindah-pindah dari daerah ke daerah, para eksekutif yang hidup di pesawat dari negara ke negara, tentara yang hanya membawa satu ransel besar dan cukup. Hidup mereka tampak sangat sederhana. A life fit in a suitcase.

Sejenak saya berpikir tentang artikel yang menganjurkan tentang hidup minimalis. Hidup dengan sesedikit mungkin barang yang dimiliki. Bah, tampaknya mereka lajang dan belum berkeluarga semua yang mengatakannya. Cobalah hidup dengan bayi, setiap kali keluar rumah peralatan perang keluarga bisa memenuhi bagasi mobil.

Tapi memang hidupku bertambah kompleks sejak menikah. Hidup dengan dua orang jelas membutuhkan lebih banyak barang daripada sendiri. Pertanyaannya adalah apakah semua barang itu perlu?

Setelah ini kami akan kembali bertualang ke Bangkok. Barang bawaan kami hanya 50kg kurang, hidup kami di sana akan jadi lebih sederhana dan dekat daripada di Jakarta. Setidaknya pada awalnya. Kami mungkin akan mengakumulasikan barang kembali. Mungkin kami harus sewa kontainer 20 feet saat pulang nanti.

Hidup kami yang kompleks di Jakarta akan jadi sederhana dan frugal di negeri orang. Suatu perubahan gaya hidup yang semoga akan membuat kami lebih dekat dan mesra.

Lalu, kemana kami akan pergi nantinya? Entah Eropa, Amerika atau mungkin negara Asia lain. Petualangan besar menanti kami.

About dnial

You don't see anything You don't hear anything You don't know anything Move along and pretend nothing happen

Posted on 28 November, 2013, in experience, life, small talk and tagged , . Bookmark the permalink. 5 Komentar.

  1. Let’s start the adventure….

    Tertanda,
    Isteri yang merangkap jadi sahabatmu dalam berpetualang dan si empunya sepatu lebih banyak hahahahaha….Sayang kamu ya..

  2. Hebat, juga gampang disimak.

  3. Salut dengan kalian berdua. Semoga sakseus bro!

  4. Selamat menjalani petualangan di Bangkok. Semoga sukses & kaya raya. Tuhan memberkati. Semoga kita bisa kopdar disana.😉

    btw apartemen gading nias ditempati siapa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: