Yang lama sudah berlalu

“yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang”

1 Kor 5:17b

Dan bukan, ini bukan soal renungan harian, cuma menarik juga konsepnya dipakai. Ini soal teknologi dan keputusan bisnis.

Posting ini adalah sebuah kegelisahan dalam pencarian ide baru di ranah teknologi. Kita tahu bahwa perusahaan besar cenderung punya respon yang lamban terhadap teknologi baru atau bergesernya pasar sehigga membuat bisnis mereka irelevan. Sebuah artikel yang membahas soal ini(aku lupa linknya) berargumen bahwa karena perusahaan besar ini dipimpin oleh manajer profesional, bukan founder-nya, tidak punya kapabilitas untuk mengubah model bisnis perusahaan secara radikal. Hanya beberapa CEO profesional yang bisa mengubah model bisnis perusahaan secara radikal.

Salah satu alasannya, menurut artikel ini, adalah founder tahu asumsi awal ketika model bisnis perusahaan dibuat dan bisa cepat bertindak ketika asumsi awalnya sudah tidak relevan lagi, sementara CEO profesional tidak.

Contoh bagus dari hal ini adalah Mark Zuckerberg ya bisa dengan cepat menemukan asumsi bahwa desktop web akan bertahan selamanya(asumsi awal facebook akan berbasis web desktop) tidak relevan dan dengan cepat masuk ke mobile, salah satunya dengan pembelian Whatsapp. Sementara Kodak akhirnya bangkrut karena terlalu lama menunda dan gagal masuk teknologi kamera digital saat kamera film sudah irelevan, padahal Kodak adalah salah satu penemu teknologi kamera digital.

Itu di dunia bisnis, terutama bisnis teknologi.

Di programming, hal yang sama terjadi. Aku melihat kecenderungan programmer enggan merombak codebase yang ditulis orang lain. Penyebabnya menurutku adalah ketidaktahuan programmer akan asumsi-asumsi dan requirement yang mendasari codebase itu. Pembuat awalnya akan langsung mengenali jika asumsi dasarnya sudah tidak relevan lagi dan bisa dengan mudah merombak codebase tersebut, namun kadang pembuat awalnya juga lupa kenapa codebase-nya punya arsitektur demikian.

Efek fatal dari keengganan ini adalah saat turnover programmer tinggi, codebase-nya akan dengan cepat menjadi rumit, karena programmer baru lebih suka membuat code baru daripada memperbaiki yang ada.

Solusi dari masalah ini adalah, mungkin sebuah code saat dievaluasi malah harus menjustifikasi keberadaannya. Kalau tidak bisa, code tersebut akan dipotong apapun asumsi awalnya.

Hal yang sama terjadi pada banyak sendi kehidupan, aturan perundang-undangan misalnya, banyak yang tidak relevan dengan keadaan modern dan harus ditulis ulang. Tapi ada keengganan untuk merubah peraturan yang ada dan lebih baik menambah aturan baru. Hal ini membuat undang-undang suatu negara semakin rumit seiring waktu dan tiba-tiba ada orang yang dipenjara karena aturan tahun 1957 yang tidak pernah orang tahu ada.

Jadi intinya, kalau mau berubah sesuai jaman, jangan takut memotong dan merombak aturan, model bisnis, codebase, atau tradisi.

About dnial

You don't see anything You don't hear anything You don't know anything Move along and pretend nothing happen

Posted on 26 Januari, 2015, in life. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: