Category Archives: experience

UMR Buruh dan Lapangan Kerja – Esai Sok Pintar

Beberapa hari terakhir beberapa tempat di Indonesia diramaikan dengan aksi demo buruh. Di Jakarta aksi ini memacetkan jalanan sekitar Bundaran HI dan saat aku berlibur ke Surabaya, bunderan Waru juga diramaikan dengan buruh yang bersiap konvoi ke kantor Gubernur Jatim untuk demo UMR juga.

Jadi, apa sih yang dituntut buruh?

Para buruh berdemo untuk menuntut peningkatan upah minimum. Di Jakarta nilai yang mereka tuntut 2,7 juta/bulan dan di Jawa Timur 2,2 juta/bulan.

Hanya ada satu kata: Wow!

Karena ternyata gaji adikku yg freshgrad tidak sebesar itu.

Kabar baiknya, gaji adikku bakal naik, kabar buruknya adik2 yang lain yang sedang mencari pekerjaan akan lebih susah mencari kerja.

Kok bisa?

Read the rest of this entry

Iklan

Tentang Outsourcing

Aku punya posisi yang ambivalen tentang outsourcing. Tapi mari aku jelaskan kira-kira gimana sih outsourcing dari sisi perusahaan dan karyawan.

Dari sisi perusahaan:

Dari sisi perusahaan outsourcing ini sangat seksi untuk bidang non-core dan bidang padat karya.

Dengan outsourcing perusahaan bisa fokus di bidang-bidang yang dianggapnya penting. Misal, soal akunting dan HR bisa di-outsourcekan karena tidak strategis atau bidang customer service. Nah, sekarang tahu kan, kalau perusahaan customer service-nya di-outsource maka bisa kata perusahaan itu, “Aku nggak peduli sama pelanggan yang punya keluhan, kalian bayar aku saja dan biar orang lain yang menangani keluhan kalian.”

Hal kedua adalah outsource ini mengurangi overhead yang terjadi jika perusahaan menambah atau mengurangi karyawan. Untuk karyawan tetap hal ini susah karena untuk mendepak mereka butuh pesangon lumayan dan untuk karyawan kontrak kudu ada uang putus kontrak, sementara outsource, tinggal dikembalikan ke penyedia jasa outsource. Dan untuk menambah karyawan outsource juga gampang, tinggal minta penyedia menyediakan sekian karyawan, selesai.

Untuk posisi yang dianggap gampang diganti, outsource ini bagai penyelamat perusahaan karena jika karyawan outsource yang sekarang dirasa gajinya terlalu besar diganti aja dengan yang junior dan gajinya masih freshgrad. Posisi-posisi yang gampang diganti diantaranya: pekerja pabrik, satpam, cleaning service, sekretaris, teller bank, surveyor, programmer dan bagian administrasi.

Hal ini adalah hal buruk untuk karyawan. Menjadi gampang digantikan adalah hal buruk. Mereka menjadi komoditas. Tidak ada lagi kisah CEO yang mengawali karirnya dari jadi petugas kliping koran karena saat sang petugas kliping koran mulai berpengalaman dan gajinya merangkak naik, dia dipecat dan diganti oleh petugas kliping koran lain yang lebih junior.

Oke, itu dari sisi karyawan outsource kerah putih, bagaimana dengan yang kerah biru macam pekerja pabrik?

Kalau dari kacamata pragmatis jawabannya sederhana: “Mereka bebas untuk tidak bekerja untuk PT xxx.”

Tapi, tidak sesederhana itu. Mencari kerja itu susah dan sebagai low skilled worker mereka tidak punya banyak pilihan dan posisi mereka lemah.

Itulah kenapa akhirnya timbul serikat pekerja. Mereka berusaha meningkatkan posisi tawar dengan berserikat dan berkumpul, mengancam mogok massal dan membuat posisi tawar mereka meningkat.

Di sisi lain, meningkatnya daya tawar secara ekstrim membuat bisnis susah berkembang karena biaya pegawai yang tinggi. Salah satu penyebab mundurnya industri otomotif di AS karena margin tipis karena kudu bersaing dengan mobil jepang yang murah dan gaji karyawan terlalu tinggi dan susah melakukan pengurangan karyawan.

Jadi?

Outsource masih akan menjadi fenomena di ranah ketenagakerjaan di Indonesia. Intinya adalah bagaimana membuat peraturan yang fair bagi pekerja dan pengusaha.

#kesimpulanbasi

Tentang beban masa lalu dan ketidakpastian masa depan

Yesus berkata bahwa jangan khawatir, kekhawatiranmu tidak akan menambah semeterpun dari jalan hidupmu. Bahkan mungkin akan mengurangi.

Seorang sahabatku pernah mempersiapkan perkawinannya dengan tunangannya. Bulan demi bulan, ternyata perkawinannya batal karena sang tunangan selingkuh dan sahabatku jadi paranoid ketika menyiapkan pernikahannya dengan kekasihnya. “Gimana kalau gagal ya? Gimana kalau dia selingkuh?”

Aku bisa bilang ke dia saat itu bahwa, kali ini beda, yang ini setia kok. Tapi kayaknya hal itu tidak berguna, karena ada suatu trauma pengkhianatan. Berita baiknya akhirnya dia menikah dan akan punya anak bentar lagi.

Read the rest of this entry

Tentang Downtime

Hidup di Jakarta itu membuang banyak waktu. Misal perjalanan dari kos ke kantor bisa satu sampai satu setengah jam, kalau tinggalnya di pinggir Jakarta lebih lama lagi. Macet adalah musuh bersama warga Jakarta. Semacam tragedy of the commons, sebuah tragedi yang terjadi karena cukup banyak orang berpikir, “enak nih ke kantor naik mobil, mampuuuu….”

Hal ini menghasilkan banyak sekali downtime di Jakarta, waktu yang terbuang di jalanan. Buatku, naik kendaraan pribadi di Jakarta itu antara sombong, bodoh, terpaksa dan ignorant. Kendaraan umum di Jakarta masih relatif dapat diandalkan meski menyebalkan asal kita tahu cara mengamankan diri. 

Alasan kedua adalah waktu yg terbuang. Saat terjebak macet di mobil, hal yang bisa kita lakukan sangat terbatas. Mendengarkan musik, mikirin pasangan, merenungi masalah hidup, main hape bentar(kalau berhenti), dll. Tapi kalau di angkot kita bisa main hape, baca google reader, twitteran, whatsappan, baca buku, tidur, pokoknya lebih banyak deh. Salah satunya bikin post di blog.

Selama di jakarta, aku terus-menerus mencari cara untuk membuat waktu di jalan tidak membosankan. Aku beli ereader, beli buku, menuhi google reader sampai install wordpress for android.

Cukup menyenangkan memulai hari kerja dengan baca-baca artikel di freakonomics, digitopoly, naked capitalism, daily wtf atau not always right di google reader. Membuat mood di kantor lebih baik daripada mati gaya terjebak macet.

Dan tentu saja, agenda wajib di pagi hari, whatsappan sama pacar. Hihihihi….

Tentang waktu

Waktu adalah sesuatu yang menarik. Waktu adalah ukuran abstrak yang paling penting di kehidupan manusia. Kita punya standar waktu, abad, tahun, bulan, minggu, jam, menit, detik, milidetik.

Orang bilang, orang jerman yang terorganisir itu membagi jadwalnya per 15 menit, semakin kecil maka akan semakin detail dan rajin dia merencanakan waktunya.

Orang Indonesia biasanya membagi waktunya per waktu sholat, habis subuh, sebelum ashar, setelah maghrib. Agak menyebalkan memang buat yang nggak sholat kayak saya, habis ashar itu jam berapa?

Sebenarnya, manakah yang lebih baik, membagi waktu dengan irisan kecil atau besar?

Mencuri waktu, itu adalah istilah yang baru aku dapat saat kerja kantoran. Para bos itu sangat sibuk sehingga kita harus mencuri waktunya. Menjelaskan ide yang disusun selama seminggu dalam obrolan 5-15 menit agar ada buy-in dari bos butuh skill mencuri khusus.

Nilai waktu tiap orang juga berbeda-beda. Ada yang nilai waktunya tinggi, macam para boss ini dan ada yang rendah macam aku.

Dalam mengorganisasi, menyusun jadwal kita menempatkan waktu itu sebagai sesuatu yang sangat berharga.

Pada akhirnya, saat semua itu selesai kita lupa satu hal, sebuah kebahagiaan tersendiri, saat kita mengerjakan sesuatu dan tenggelam di dalamnya, sampai kita tidak sadar bahwa waktu telah berjalan, bahwa rencana-rencana yang disusun tidak berjalan karena semua tenggelam dalam satu hal itu… saat itu selesai kita tersenyum puas.

Mungkin untukmu aktivitas itu adalah menulis, ngegame, bikin program, baca buku, lari atau apapun itu. Saat itu selesai kamu bisa bilang, aku telah menemukan sesuatu yang lebih berharga daripada waktu.

Temukan aktivitasmu, temukan sesuatu dalam dirimu yang lebih berharga dari waktu.