Category Archives: poetry

Kami ini budak-budak

 salve.jpg

Kami ini budak-budak
Terkukung untuk belajar menjadi budak yang baik
144 sks penuh
lebih jika perlu

Kami ini budak-budak
Satu pikiran satu ambisi
Sejak awal dihembuskan nilai sukses seorang budak
Banyak uang, kedudukan tinggi, dan gonta-ganti istri Read the rest of this entry

Jangan Percaya

Jangan percaya apa yang kamu lihat,
Yang kau lihat belum tentu nyata
Jangan percaya apa yang kamu dengar
Yang kau dengar belum tentu benar
Jangan percaya dengan apa yang kau sentuh
Yang kau sentuh belum tentu nyata
Jangan percaya dengan manusia
Karena manusia mengecewakan
Jangan percaya dengan dunia
karena dunia tak tentu
Manusia yang tidak percaya,
Tenggelamlah denganku
Dalam lautan ketidakpercayaan
Dimana ikan paranoia berenang
Dimana hiu kesendirian mengintai
Dan akhirnya
Jangan percaya dengan semua yang aku tulis

Why Now?

For all the time in the world
Why now?
Wind that flows to my face
Sun that rays on my skin
Grass that tickle my feet
All of them remind me again
How coward I am
How stupid I am

Curse that bind me
Now have been broke down
When I am now free,
Why now?

But all I know,
True love waits

Cerita tentang persahabatan

Hari ini aku mengingat masa-masa itu

Pada awal kita menginjakan kaki di ITS

Kawan-kawan pertamaku

Saat kita bertemu di sebuah Welcome Party

Saat kita dimarahi OC di TC Garden

Masa-masa indah dan masa-masa kebodohan kita

Aku masih ingat saat kita pagi-pagi nyari susu sapi di Ngagel

Saat kita malam-malam nyari baju hitam

Saat kamar tidur Chiman yang kecil itu penuh seperti ikan pindang

Saat Kario ngebut jam 2 pagi ke Sinar Bintoro

Saat Dede’ ngebut dari Ngagel ke TC

Saat kita berdebat, bertengkar dan dilakukan di depan SC

Aku juga masih ingat saat-saat itu,

Saat kita TPB di Tekkim

Saat kita ngobrol dengan anak-anak jurusan lain

Saat kita nemenin Huda yang masih patah kaki

Jalan dari Tekkim ke TC

Aku juga ingat saat-saat itu,

Saat kamp neraka di kebun Purwodadi

Saat kita dipressing anak-anak kecil

Saat aku harus jalan di jembatan yang terus goyang

Saat kita harus make baju yang sama selama 3 hari 3 malam

Saat kita nyeburin OC ke kali

Aku juga masih ingat saat-saat itu

Saat kita membagi nasi bungkus ke anak jalanan

Aku masih ingat senyum di wajahnya

Saat kita berikrar untuk melakukan ini setiap tahun

Untuk menyentuh kehidupan anak jalanan itu

Walau hanya sebatas buka puasa

Aku juga ingat saat-saat itu

Saat kita praktikum bersama

Saat Surya dan Adi dengan sabar ngasih tutorial

Saat kita mencari baceman yang bersliweran

Saat kita takut-takut melobi asisten

Aku juga ingat saat-saat itu

Saat kita nggarap TC Cup

Saat Dana pontang-panting

Saat Teman-teman menjadi ballboy

Saat aku jadi IP abadi

Saat kita ingin menghajar senior yang seenaknya sendiri

Aku juga ingat saat-saat itu

Saat kita bekerja bersama di Hima

Saat nggeruduk Primagama

Saat kita menyusuri Surabaya mencari SMU

Saat roadshow di SMU

Saat pontang-panting ngerjain seminar wireless

Aku juga ingat saat-saat itu

Saat kita bermain dengan api politik

Saat kita dengan bangga menyatakan sebagai HMTC-P

Saat kita berani bertindak beda

Saat dendam itu mengalir, dan mengatakan kita beda

Tapi benarkah kita berbeda?

Aku juga ingat saat-saat itu

Saat kita mengkader gundul-gundul penerus kita

Saat kita marah-marah di tengah panas

Saat kita harus madamin api di Poltek Elka

Saat kita kamp melawan debu dan panas

Aku juga ingat saat-saat itu

Saat kita kembali bermain politik

Saat kita terpecah dan berperang

Mencari pemimpin HMTC

Luka yang terus berdarah

Sampai perang terbuka di OpenTalk

Aku juga ingat saat-saat itu

Saat kita jadi penikmat kamp 2004

Saat aku diperas ke Pak Soleh

Saat aku diperas lagi di Cuban Talun

Saat kita harus nunggu truk yang baru datang jam 10 malam

Saat kita baru sampai jam 1 pagi di TC

Saat kita langsung nggeletak tak berdaya di Hima

Aku juga ingat saat-saat indah itu

Saat cangkrukan di TA

Saat kita gitaran dan nyaingin pengamen di sana

Saat kita makan di Pecel Pucang

Saat kita makan di Pecel Bioskop

Saat kita jalan-jalan ke kampus ‘D’

Saat nyari jus jam 3 pagi

Saat muterin Surabaya malam-malam

Saat-saat nyari hadiah buat temen yang ultah

Saat kita berdebat tanpa ujung dan akhirnya kembali ke selera asal

Saat kita melakukan ritual kita di TP, Es Monas di Pujasera

Aku ingat guyonan-guyonan kita saat itu

Guguk yang perut karung

Huda yang selalu tidur waktu pulang

Dan Chiman yang selalu milih jalan rusak biar Huda bangun

Hain dengan Cak Iwannya

Selera Luckham soal Irba

Knip yang dipanggil Gunmodsum

Hendra yang ganti nama jadi Fauzan

Aku masih ingat saat kita jalan-jalan ke Kediri

Saat kawinannya mas Ajun

Saat bingung dengan petunjuk arah penduduk

Saat mas Kamal nabrak orang

Saat kita mendengar kutipan mas Khol

“Jangan salahkan magnet yang ditempeli besi”

Aku juga ingat saat-saat itu

Saat kita dibantai waktu main AOE

Saat diskusi-diskusi postgame

Saat kita cangkrukan di Hima

Saat kita menimba ilmu dari para senior kita

Saat kita diprovokasi membentuk HMTC-P

Saat aku ngabisin 2 minggu buat namatin Dragonball GT

Saat kita muak ndengerin “Berhenti berharap” yang diputer mas Khol

Saat komputer kita mendobrak dominasi 99

Saat komputer kita mendominasi Hima

Saat komputer kita mulai tergusur

Oh, masih banyak memori itu

Tak terucapkan, Begitu berharga

Hal-hal sepele, hal-hal penting

Saat-saat kebersamaan kita

Semoga saat-saat indah itu terus terkenang

Dan persahabatan kita kekal sampai kita tua nanti

World of Matrix

We’re all living in matrix world
All is matrix and matrix is all
Matrix is what we breathe
Matrix is what we see
Matrix is inside me
Matrix is surround me

Matrix is our live
Matrix is our way of live

That is our world
The world of computer science