Category Archives: small talk

Tentang Kompleksitas Hidup

Sudah beberapa kali aku berpindah tempat tinggal. Dari Surabaya ke rumah paman di Bekasi, dari Bekasi ke kos di daerah Kebagusan, Jakarta Selatan, saat sebelum menikah pindah dari kos ke Apartemen Gading Nias dan sekarang dari Apartemen Gading Nias ke rumah mertua di Pulomas. Dan besok, hijrah ke negeri orang bersama Priska.

Dan aku perhatikan barang yang aku bawa setiap kali pindah semakin banyak. Saat aku pindah ke apartemen aku harus menyewa mobil boks, tapi proses pindahannya sendiri hanya satu-dua jam. Tapi, proses pindahan ke rumah mertua ini yang membuatku geleng-geleng kepala.

Proses pindahannya cukup lama, mengangkut barang-barang ke pickup yang menunggu di bawah seakan tidak selesai-selesai. Banyak sekali barang yang kita pindahkan, itupun sudah dicicil selama sebulan terakhir. Read the rest of this entry

The Art of Getting It Done

Judul kemiggris, tapi bahasanya Indonesia ajalah.

Posting ini tercetus gara-gara post di reddit As someone who doesn’t write code, I think the idea of “Done is better than perfect” is wrong. Sebagai programmer respon pertama adalah bagian pertama sudah menjelaskan semuanya, dia bukan programmer maka tidak akan paham lah. Tapi mari kita elaborasi kenapa “Done is better than perfect”. Poin-poin di bawah berasal dari prinsip pemrograman yang aku pelajari, tapi nampaknya prinsip ini dampaknya luas.

1. Kita tidak tahu sempurna itu seperti apa. Read the rest of this entry

Tentang Memberi Nama

Aku suka memberi nama barang-barang yang sering akau pakai, terutama gadget. Hal ini berawal dari kebiasaan saat kuliah dimana dalam labkom kampus semua komputernya punya tema nama yang sama, misal, karakter dalam Harry Potter, nama-nama benda langit atau nama tokoh dunia perwayangan.

Untuk gadget-ku aku memberi tema kata sifat, hape pertamaku diberi nama Hope (nokia CDMA 6625) lalu Grace (Samsung Valencia), lalu Veritas (Samsung Gazzy), laptopku diberi nama Epiphany dan eReaderku kuberi nama Radiance.

Kenapa diberi nama?

Buatku memberi nama pada gadget sama dengan membuat mereka personal. Hal ini membuatku sadar atas peran mereka dalam kehidupanku. Aku menghembuskan jiwa dan kehidupan pada mereka. Dan, akhirnya berpisah dengan gadget2 itu adalah sebuah perjuangan besar. Contoh, meski hapeku sudah ganti dengan Veritas, Grace dan Hope masih ada bersamaku.

Nah sekarang, apa nama yang akan kuberikan pada laptop yang baru dibeli?

 

Keterhubungan dan hidup

Seorang teman menghubungi YM-ku beberapa waktu lalu dan bercerita tentang seorang teman kami yang baru saja berhenti dari sebuah perusahaan multinasional untuk bergabung sebagai sukarelawan di sebuah lembaga swadaya masyarakat non-profit yang bergerak untuk menyediakan buku bagi anak-anak di pedalaman.

Temanku ini bertanya-tanya tentang fenomena ini, kenapa teman saya ini berhenti dan bergabung dengan sebuah non-profit dan bekerja di tempat antah berantah. Aku menarik kesimpulan bukan dari teman kami ini, tapi dari buku-buku, dari pengalaman orang lain dan pengalamanku sendiri yang tertarik untuk berbagi. Read the rest of this entry

Loyalitas dan Zona Nyaman

Topik favoritku saat ngobrol adalah soal karir dan kehidupan. Apalagi jika ngobrol dengan teman dekat. Aku selalu ingin tahu kenapa seseorang memilih jalan yang dilalui sekarang dan mengontraskan dengan pilihanku supaya di masa depan aku bisa melihat dari sisi lain dan punya sudut pandang yang kaya.

Pertanyaan favoritnya adalah “Apakah kamu bahagia?” Seorang wanita cantik yang sedang makan di McD Tebet ini berkata dengan jelas, “Selama aku nyaman, nggak ada alasan kuat untuk pindah dan mereka bisa memberi apa yang aku inginkan kenapa tidak?”

Hari itu wanita muda itu mengajakku keluar setelah dia menengok rumahnya yang sedang dibangun di daerah Jakarta Selatan. Rumah itu dia bangun dengan bantuan kredit dari kantornya dan dia berkata, “Aku terikat 10 tahun untuk kredit rumah ini.” Read the rest of this entry