Category Archives: zero.thing

Sejejak Langkah

Sejejak langkah di pantai, sejenak hilang disapu ombak. Seekor camar tebang rendah, lalu bertengger di karang yang tegar menentang ombak. Hening menyelimuti sore saat matahari perlahan bersembunyi di ufuk barat. Para pemburu sore mulai mengabadikan terbenamnya mentari.

Seutas memori dari waktu yang lampau perlahan menghampiriku di metromini malam itu. Termasuk memori masa kuliah yang masih bikin tersenyum karena kelucuannya, kehangatannya dan persahabatan yang terjalin. Tapi itu hanyalah sejejak langkah.

Aku pun melangkah ke sebuah mall langganan dan langkahku terhenti di muka sebuah resto tempat sebuah memori tercipta. “Tempat itu tetap ada, memori itu tetap ada, maka buatlah memori baru dengan orang yang baru, jangan menghindar,” kata bijak seorang teman beberapa waktu lalu. “Kalau kau ingin melupakannya jangan biarkan ingatannya menentukan langkah hidupmu, menentukan dimana kamu bisa datang, dan mana yang harus kauhindari. Kamu orang bebas, kau punya kuasa penuh atas hidupmu.”

Kebohongan tentunya, tidak ada orang yang punya kuasa penuh atas hidupnya.

Ah, ini hanyalah sebuah rancauan malam dan galaunya sebuah perpisahan. Berpisah dengan masa yang telah berlalu lama.

 

Schrodinger’s Cat

Imagine a cat, a black cat. Walking alone in the dark. With silence as his company. The black cat is crawling towards a box. A black box. He smells something, some fishy box, he thinks. He can smell tuna fish inside that black box, but the box itself is rather interesting. It is a simple box, but he feels danger.

He use his paws to touch that box. One touch, the box doesn’t budge, second touch, it is stay still. Curios, he thinks. If he knew that curiosity kills cat, he won’t do what he about to do next. He enter the box, slowly, cautiously.

He can smell his prize, a tuna fish. But then an unexpected turn of event come. The box slam shut. He’s trapped inside!

Panic, he crawl the wall in the box, but the box stay intact. Now, I’m dead, the cat thinks. And then he see it. A light in the corner of the box, glowing light. If he is a physicist then he will know that that is a radioactive substance that have 50% chance to deteriorate an emitting radioactive rays that will kill him. If he is a physicist then he will know that he is in a quantum superposition. He is both alive and dead at that time.

But he don’t know. He just touch that substance.

Now, is that cat alive?

Let us open that box, shall we?

Musik Jaman Sekarang.

Di suatu malam, di atas bis yang melaju menyusuri jalanan Jakarta yang penuh sesak. Dengan pemandangan macet yang biasa, deru motor, mobil, truk dan bis membahana. Sejenak dua jenak, suara klakson nyaring membelah malam, kadang bersahutan, kadang sendiri dan nyaring seperti lolongan serigala kesepian.

Bising itu tak surutkan manusia kecil yang berdiri di tengah bis kota, menyanyikan entah lagu apa, dengan birama berapa, berusaha mengetuk hati penumpang. Lamat-lamat lagu demi lagu dilantunkan oleh para pengamen jalanan, biasanya cukup dua atau tiga lagu, lalu kantong diedarkan untuk meminta sedekah atas sejenak keindahan yang mereka bagikan. Aku duduk menyendiri, memeluk tas hitam seakan nyawaku bergantung kepadanya. Read the rest of this entry

Cantik…

Kulitnya coklat membara, terbakar terik matahari yang membakar Nusa Tenggara siang itu. Di tengah padang rumput yang menghijau, kemilau cahayanya bagai keindahan yang diukir Tuhan bagiku.

Dia bermain-main di tengah padang rumput yang hijau. Berlarian kesana kemari, memperlihatkan betapa dia telah sembuh dari demam yang menyerangnya 2 hari lalu. Sesekali dia menyapaku dengan senyum simpulnya, Mungkin berterimakasih atas tangan lembutku yang merawatnya seharian. Tapi aku hanya terdiam, ingin mengagumi ciptaan Tuhan yang indah ini.

Read the rest of this entry

Benar atau Bahagia

You can be either happy or right, but you can’t be both. -Commander In Chief

Sebuah kata-kata singkat yang membuat aku berpikir, atau tepatnya mengingat perdebatan lama di pikiranku.

Read the rest of this entry