Arsip Blog

Selamat Memilih!

Selamat memilih! Pilih yang bener ya… Jangan golput seperti saya. Kasihan para caleg yang sudah mengeluarkan dana milyaran untuk mengotori jalanan dengan poster narsis mereka.

Ingat! Pilihan anda, masa depan mereka. Pilih calon koruptor favorit anda!

Karena merekalah yang akan mewakili anda di parlemen, merekalah yang akan meneruskan mimpi-mimpi anda di ruang sidang. Jangan lupa bangunkan saat sidang selesai ya…

Merekalah yang juga akan mewakili Indonesia di luar negeri, dengan belanja habis-habisan dan telat saat rapat penting dengan diplomat luar negeri. Namanya… studi banding, membandingkan harga Versace dan Gucci di Indonesia dengan di Italia.

Pintu merekalah yang akan terbuka lebar di parlemen, dan jangan khawatir jika kantor mereka kosong saat anda datang. Mereka mungkin sedang sibuk merencanakan masa depan bangsa dengan sekretaris mereka di kamar hotel.

Mereka juga akan bekerja hingga larut malam. Demi masa depan anda! Bertemu dengan para pengusaha kaya untuk menegosiasikan apa yang terbaik bagi anda. Uang di koper itu hanya bonus…

Mereka akan yang bertaruh nyawa, hidup bahkan harga diri, kejujuran dan integritas mereka demi bangsa. Mereka rela mendapat gaji banyak dan mengkorupsi lebih banyak lagi untuk meneruskan mimpi-mimpi anda.

Pilih sekarang! Karena besok, pilihan anda adalah statistik.

Apakah DPR pilihanmu lebih baik dari DPR pilihanku 5 tahun lalu?

Selamat memilih! Welcome to reality!

Iklan

Satu pertanyaan tentang caleg

Aku punya beberapa pertanyaan penting tentang caleg.

Setelah tanggal 9 April 2009, apa yang harus dilakukan terhadap sampah visual yang bertebaran di jalanan seantero Indonesia?

  1. Serahkan pada ahlinya.
  2. Sebagai kain pembatas warung.
  3. Didaur ulang.
  4. Diambil untuk mengusir tikus di rumah.
  5. Ditaruh di depan rumah untuk pengusir setan.
  6. Masukkan ide anda…

Aku sekarang merasa ide proporsional terbuka adalah ide yang buruk. 😦

Kenapa orang memilih? Sebuah tinjauan terhadap perilaku pemilih dan bagaimana meningkatkan partisipasi rakyat.

That’s a long title and sound like a thesis title too. Tapi jangan khawatir, nggak serumit itu kok.

Pandu kemarin menurunkan posting tentang kenapa kita nggak boleh golput. Dia menyasar tentang betapa berartinya suara kita dan mnyusun berbagai counter-argumen untuk menyasar berbagai alasan yang digunakan untuk golput. Tapi apakah benar suara kita berarti?

Lihat saja Pilkada yang kacau di berbagai daerah. Di Maluku Tengah misalnya, yang menentukan siapa gubernurnya siapa? Pemilih? Bukan. pengadilan dan KPU.

Lalu lihat saja di setiap Pilkada selalu ada yang namanya quick count. Metode sampling yang mampu memprediksi hasil Pilkada dengan margin error 1-5%.

Lalu… what’s the point? Read the rest of this entry