Tentang Skalabilitas Pengajar

Ini bukan postingan teknis, well, dikit. Tapi soal perenungan.

Pernah mbayangin dunia di awal abad 19 saat gramofon belum populer?

Di jaman itu, bila seseorang suka dengan Dewa 19, maka dia harus pergi ke Jakarta dan melihatnya live saat konser. Tapi bagaimana jika dia tidak punya uang untuk ke Jakarta? Dia masih bisa menikmati musik dari penyanyi dan grup band lokal.

Lalu, ditemukanlah mesin pemutar suara, gramofon lalu radio tape, cd dan mesin penyebar berita, radio dan tv. Hal ini membuat semua orang kenal dengan Dewa 19 dan bisa mendengarkan musiknya di radio atau beli kasetnya. Hal ini jelas mengancam penghidupan pemusik lokal yang tiba-tiba harus bersaing dengan Dewa 19.

Anda mengerti maksudku soal skalabilitas?

Nah, sebuah pergeseran kini mulai terjadi. Hal ini mengancam banyak dosen-dosen. Apakah itu?

Read the rest of this entry

Tentang Downtime

Hidup di Jakarta itu membuang banyak waktu. Misal perjalanan dari kos ke kantor bisa satu sampai satu setengah jam, kalau tinggalnya di pinggir Jakarta lebih lama lagi. Macet adalah musuh bersama warga Jakarta. Semacam tragedy of the commons, sebuah tragedi yang terjadi karena cukup banyak orang berpikir, “enak nih ke kantor naik mobil, mampuuuu….”

Hal ini menghasilkan banyak sekali downtime di Jakarta, waktu yang terbuang di jalanan. Buatku, naik kendaraan pribadi di Jakarta itu antara sombong, bodoh, terpaksa dan ignorant. Kendaraan umum di Jakarta masih relatif dapat diandalkan meski menyebalkan asal kita tahu cara mengamankan diri. 

Alasan kedua adalah waktu yg terbuang. Saat terjebak macet di mobil, hal yang bisa kita lakukan sangat terbatas. Mendengarkan musik, mikirin pasangan, merenungi masalah hidup, main hape bentar(kalau berhenti), dll. Tapi kalau di angkot kita bisa main hape, baca google reader, twitteran, whatsappan, baca buku, tidur, pokoknya lebih banyak deh. Salah satunya bikin post di blog.

Selama di jakarta, aku terus-menerus mencari cara untuk membuat waktu di jalan tidak membosankan. Aku beli ereader, beli buku, menuhi google reader sampai install wordpress for android.

Cukup menyenangkan memulai hari kerja dengan baca-baca artikel di freakonomics, digitopoly, naked capitalism, daily wtf atau not always right di google reader. Membuat mood di kantor lebih baik daripada mati gaya terjebak macet.

Dan tentu saja, agenda wajib di pagi hari, whatsappan sama pacar. Hihihihi….

Tentang waktu

Waktu adalah sesuatu yang menarik. Waktu adalah ukuran abstrak yang paling penting di kehidupan manusia. Kita punya standar waktu, abad, tahun, bulan, minggu, jam, menit, detik, milidetik.

Orang bilang, orang jerman yang terorganisir itu membagi jadwalnya per 15 menit, semakin kecil maka akan semakin detail dan rajin dia merencanakan waktunya.

Orang Indonesia biasanya membagi waktunya per waktu sholat, habis subuh, sebelum ashar, setelah maghrib. Agak menyebalkan memang buat yang nggak sholat kayak saya, habis ashar itu jam berapa?

Sebenarnya, manakah yang lebih baik, membagi waktu dengan irisan kecil atau besar?

Mencuri waktu, itu adalah istilah yang baru aku dapat saat kerja kantoran. Para bos itu sangat sibuk sehingga kita harus mencuri waktunya. Menjelaskan ide yang disusun selama seminggu dalam obrolan 5-15 menit agar ada buy-in dari bos butuh skill mencuri khusus.

Nilai waktu tiap orang juga berbeda-beda. Ada yang nilai waktunya tinggi, macam para boss ini dan ada yang rendah macam aku.

Dalam mengorganisasi, menyusun jadwal kita menempatkan waktu itu sebagai sesuatu yang sangat berharga.

Pada akhirnya, saat semua itu selesai kita lupa satu hal, sebuah kebahagiaan tersendiri, saat kita mengerjakan sesuatu dan tenggelam di dalamnya, sampai kita tidak sadar bahwa waktu telah berjalan, bahwa rencana-rencana yang disusun tidak berjalan karena semua tenggelam dalam satu hal itu… saat itu selesai kita tersenyum puas.

Mungkin untukmu aktivitas itu adalah menulis, ngegame, bikin program, baca buku, lari atau apapun itu. Saat itu selesai kamu bisa bilang, aku telah menemukan sesuatu yang lebih berharga daripada waktu.

Temukan aktivitasmu, temukan sesuatu dalam dirimu yang lebih berharga dari waktu.

Tentang rencana-rencana

Banyak orang beresolusi dan berencana. Mereka berusaha meresoleskan mau apa mereka tahun ini. Tampaknya gara2 tahun2 lalu banyak resolusi yang gagal, aku pun jadi enggan untuk bikin resolusi tahun baru.

Life is an adventure, life is what happen when you making plans, just do it, itulah hal-hal yang akan menjadi pedomanku. Berjalan, berubah, berevolusi dan beradaptasi. Akan ada banyak perubahan tahun depan, sama dengan tahun lalu yang penuh kejutan dan perubahan.

Aku punya banyak mimpi tentu, yang terus berubah setiap saat. Tapi bukankah hidup adalah soal mimpi yang dikejar, mimpi yang dikubur, mimpi yang melayang dan sedikit mimpi yang teraih?

Mungkin sebelum bermimpi, kita harus bertanya dulu, apa yang kita mau? Apa yang penting? Apa yang tidak perlu kita lakukan?

Hal-hal yang sering kita lupakan.

Fokus bukanlah punya 10 impian, tapi hanya punya satu. Fokus adalah soal bilang tidak pada hal-hal yang bukan impian kita, hal-hal yang tidak penting, hal-hal yang mengalihkan perhatian kita. Fokus adalah soal menutup pintu-pintu dan percaya setiap pintu yang tersisa akan membawa kita lebih dekat dengan apa yang kita impikan.

Adaptasi adalah soal mau berubah sesuai keadaan. Menyesuaikan layar sesuai arah angin, berbelok sebentar agar tiang layar tidak patah. Seringkali kita salah jalan, berhenti menyalahkan kenapa tidak memilih jalan yang lain tapi kita perlu menerima jalan yang ada dan jalan mana yang kudu ditempuh. Adaptasi adalah soal memanfaatkan apa yang ada, bukan berharap pada hal2 yang tidak kita miliki.

Kerja keras adalah kerja keras. Tidak ada jalan pintas, tidak ada kode curang, tidak ada pikiran korup, tidak ada malas-malasan.

Dan terakhir, percaya. Percaya bahwa seburuk apapun keadaan, sejauh apapun kita tersesat, pasti Tuhan buka jalan. Pada waktunya, sesuai rencana-Nya.

Fokus, adaptasi, kerja keras dan percaya. Itu saja.

Apakah saya sudah bisa bilang… salam super?

Tentang Kopi dan Manajemennya

Programmer (n): An organism that can turn caffeine into code.

Dari definisi wikipedia, kopi mengandung kafein, kafein adalah stimulan saraf dengan cara menghilangkan lelah dan meningkatkan kewaspadaan. Kafein adalah zat penting untuk programer sebagai bahan inspirasi saat membuat program.

Meski tergolong”psychoactive substances”, kafein bukan bahan berbahaya tidak punya efek merugikan kesehatan meski diminum selama bertahun-tahun dan bahkan punya efek perlindungan terhadap kanker. Drink coffee, be healthy.

Tapi, aku pribadi punya beberapa masalah dengan kopi.

Candu. Salah satu indikasi candu adalah kita perlu lebih banyak untuk mencapai efek yang sama. Misal, sebulan lalu, cukup satu gelas kopi dan aku akan terjaga seharian, sekarang setelah makan siang aku butuh segelas lagi. Hal ini adalah indikasi bahwa kopi mengakibatkan candu. Semakin lama efeknya akan semakin berkurang dan aku butuh mengkonsumsi lebih banyak lagi.

Withdrawal. Setiap kali aku absen minum kopi, badan terasa lemas dan seringkali kepala jadi pusing. Ini adalah gejala withdrawal dari kopi.

Susah tidur. Ini sedikit absurd, meski tidak kuat terjaga, aku jadi susah tidur nyenyak.

Ketiga hal itulah yang membuat aku waspada terhadap kopi. Dan berhubung kerjaan di kantor berkurang, aku punya kesempatan untuk meng-cut kopi selama seminggu ini dan mereset tubuhku sehingga efek kopi bisa maksimal lagi, dan membuat tidurku nyenyak.

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.