Konvergensi, Quick Count dan Statistika yang Menolak Tunduk

Pilpres 2014 ini memang Pilpres yang luar biasa. Ada kemeriahan, ada fitnah dan yang paling membuatku terkesan ada partisipasi publik di dalamnya. Ada orang-orang yang tanpa dibayar sepeserpun dan bahkan mengeluarkan duit mau berkampanye untuk capres idolanya, ada orang yang mau bikin aplikasi untuk menghitung exit poll di luar negeri, ada programmer(bahkan ada beberapa) yang membuat situs yang mengajak masyarakat untuk berpartisipasi mengentry data C1 secara manual untuk mengawal suara di form C1. Luar biasa!

Tapi Pilpres kali ini juga diwarnai pembodohan karena metode hitung cepat ternoda oleh lembaga quick count yang tidak bertanggungjawab telah mencemarkan nama baik ilmu statistik.

Sekarang, ilmu statistik melawan.

Hari ini, dengan bekal data C1 yang dientri oleh ribuan relawan yang bekerja tanpa dibayar, kita akan melawan pembodohan. Kita akan membuat quick count versi kita sendiri.

Latar Belakang

Quick count pada dasarnya adalah penelitian statistik dan semua penelitian punya kewajiban untuk dapat direproduksi ulang oleh pihak lain. Sebuah penelitian yang hasilnya tidak dapat direproduksi bukanlah penelitian yang benar, itu hanyalah sebuah kebetulan.

Jadi, kita hari ini akan belajar untuk mereproduksi sebuah quick count.

Bahan:
1. Data C1 dari berbagai sumber, kali ini kita akan pakai kawal suara. http://kawal-suara.appspot.com/
2. Microsoft Excel atau spreadsheet lainnya. Alternatif lain bisa pakai google spreadsheet atau Open Office Calc. Karena ini akan dirilis di internet saya akan impor perhitungannya ke Google Spreadsheet.
3. Pikiran yang terbuka, bersih dan adil. Seorang peneliti harus adil sejak dari pikiran, harus bersih dari kepentingan dan bisa menerima jika hasil penelitiannya tidak sesuai dengan hipotesis awalnya. Kepentingannya cuma satu, menambah pengetahuan. Hari ini kita akan menjadi seorang peneliti, jadi pikiran yang bersih dan adil ini sangat penting.
4. Google dan koneksi internet. Ini penting untuk mengcrosscheck ilmu yang baru kita dapat. Jangan sampai aku membodohimu. Aku bisa salah, ilmuku bisa ngawur.

Metodologi

Hari ini kita akan menggunakan metodologi yang disebut multi-stage cluster random sampling. Kenapa? Karena lebih simple. Bisa pakai metode yang lain dan akan dibahas sekilas, tapi intinya sama.

Dalam multi-stage cluster random sampling ini kita akan menentukan sebuah jumlah TPS yang akan kita ambil datanya di awal. Kita akan ambil 200 TPS. Kenapa 200, ya simple saja, karena sepertinya itu cukup enak untuk belajar, dan kita cuma perlu ambil minimal 1 sampel dari tiap propinsi dan setiap propinsi terwakili. Kalau anda cuma sanggup 100 ya boleh2 saja, kalau mau 10 ribu juga boleh. Namanya juga belajar. Dari 200 ini kita akan ambil secara proporsional dari setiap cluster, clusternya kali ini adalah propinsi. Jadi misal di aceh punya 1/5 dari jumlah TPS ya kita akan ambil 1/5 x 200 = 40 TPS di Aceh sebagai sample. Ambilnya TPS-nya random. Ini artinya multi-stage cluster random sampling. Tentukan clusternya, ambil random sample dari cluster.

Ada lagi metode yang lain namanya random sampling, dalam random sampling ini tidak ada cluster-cluster. Kita anggap seluruh Indonesia adalah satu kesatuan lalu kita ambil sample sesuai tingkat kepercayaan yang kita mau ambil Menurut perhitungannya untuk 470rb TPS kita harus ambil 16rb-an secara random untuk mendapat tingkat kepercayaan 99%. Cara ini jelas lebih solid, tapi ya aku yang males ambil data dari 16rb TPS.

Dengan cara ini maka perbandingannya kira-kira:
ACEH          9,508        4
JAWA BARAT     75,151     31
JAWA TENGAH     67,850     28
JAWA TIMUR     75,977     32

Lanjut!

Okeh, jadi dari data di atas kita akan ambil acak dari tiap propinsi sesuai TPS jatahnya. Tapi setelah dijumlah, karena ada pembulatan dari proporsi dapatnya cuma 198 TPS, alhasil Bali dan Kalteng ditambah satu dari 2 menjadi 3. Kenapa? Because I said so. Nggak ada alasan ilmiah lain.

Kenapa kok aku percaya diri dengan aturan yang nampaknya iseng tersebut, karena ada prinsip statistik yang namanya Central Limit Theorem. CLT ini bilang bahwa dengan pengacakan yang cukup, maka distribusi sampel akan mendekati rata-rata.

Kok mbulet ya? Pada intinya sih, kalau kita mengacak mendekati benar, hasilnya akan mendekati hasil dengan metodologi yang lebih rigid. Ya melesetnya nggak akan jauh-jauh amat lah. Atau istilah kerennya hasil quick count ini diulang berapa kalipun hasilnya akan konvergen atau mendekati angka yang sama, dalam hal ini sekitar 52-53%-an untuk Jokowi dan 47-48%-an untuk Prabowo Hatta.

Hasilnya bisa diintip di sini.

Hasil akhir quick count ini:
Prabowo-Hatta: 48.18%
Jokowi-JK : 51.82%

Hmmm… Nggak jauh2 amat lah dari QC di Tivi-tivi.

Kesimpulan

Bahwa, statistik ini adalah alat yang sangat bagus untuk digunakan jika penelitinya punya pikiran yang jernih. Kita bisa menghasilkan presentase yang mendekati QC yang lebih rigid metodologinya asal kita mau mematuhi kaidah-kaidah ilmiah yang benar, bahkan melenceng sedikit pun, masih bisa mendarat di sekitaran 2%-an.

Aku ingin menunjukan Quick Count dan statistik bukan sebuah hal yang kompleks dan menakutkan. Tapi sangat sederhana dan kita bisa lakukan sendiri asal ada datanya. Datanya ini yang harus dikumpulkan lembaga QC dengan mendaki gunung, turuni lembah atau bagiku mengopi data TPS satu per satu ke Excel.

Dengan operasi sederhana di Excel, SUM dan DIVIDE kita bisa melakukan quick count kita sendiri.

Jadi, Statistik dan Quick Count itu sederhana, kok. Jangan mau ditakut-takuti dengan statistik oleh para orang yang ngakunya pakar.

 

Tentang Star Trek dan Perubahan

Salah satu serial TV favoritku adalah Star Trek, terutama The Next Generation. Di salah satu episodenya, Star Trek menceritakan tentang 3 orang yang dibekukan karena menderita penyakit yang tidak bisa disembuhkan di abad 21 dan karena kerusakan mesin pesawat mereka, mengambang di luar angkasa selama ratusan tahun. Ketiga orang itu harus menghadapi situasi yang baru sama sekali di masa yang bukan masa mereka.

Orang pertama, seorang penyanyi country, menghadapinya dengan santai, “Lha kan aku harusnya sudah mati, ya santai sajalah.” orang kedua, seorang wanita depresi karena semua orang yang dia kenal sudah meninggal, “Suamiku egois, dia membekukanku supaya dia tidak merasa bersalah karena pengobatannya gagal”, orang ketiga, seorang bankir kaya ngotot ingin kembali ke bumi untuk mencairkan dananya.

Kapten Jean-luc Picard mencoba menjelaskan kepada sang bankir tentang perubahan di bumi di abad 24, bahwa tidak ada uang di abad 24 dan mengumpulkan kekayaan bukanlah tujuan manusia lagi. Read the rest of this entry

Tentang Kompleksitas Hidup

Sudah beberapa kali aku berpindah tempat tinggal. Dari Surabaya ke rumah paman di Bekasi, dari Bekasi ke kos di daerah Kebagusan, Jakarta Selatan, saat sebelum menikah pindah dari kos ke Apartemen Gading Nias dan sekarang dari Apartemen Gading Nias ke rumah mertua di Pulomas. Dan besok, hijrah ke negeri orang bersama Priska.

Dan aku perhatikan barang yang aku bawa setiap kali pindah semakin banyak. Saat aku pindah ke apartemen aku harus menyewa mobil boks, tapi proses pindahannya sendiri hanya satu-dua jam. Tapi, proses pindahan ke rumah mertua ini yang membuatku geleng-geleng kepala.

Proses pindahannya cukup lama, mengangkut barang-barang ke pickup yang menunggu di bawah seakan tidak selesai-selesai. Banyak sekali barang yang kita pindahkan, itupun sudah dicicil selama sebulan terakhir. Read the rest of this entry

Tentang Beli atau Sewa Rumah

Tren investasi di sektor properti membuat banyak orang susah. Termasuk yang belum memiliki rumah sendiri untuk tempat tinggalnya.

http://finance.detik.com/read/2013/11/28/112509/2426117/1016/properti-jadi-investasi-yang-belum-punya-rumah-tidak-bisa-punya-rumah

Jadi, investasi rumah bagus atau tidak? Tergantung cara pandang pingin/bisa punya rumah pertama atau tidak.

Buat yang belum bisa punya rumah pertama dan butuhnya kontrak rumah harusnya sih bagus, ada banyak kontrakan dan sewa rumah dengan harga bersaing hasil dari orang yang punya rumah kedua, ketiga yang tidak ingin asetnya tidur.

Tapi, bagaimana menghitung apakah sebuah rumah overvalued dan mending sewa?

Nggak susah sebenarnya, coba cek Price to rent ratio. Hitung harga rumah di daerah sekitar dan bandingkan dengan harga sewa setahun. Jika harga rumah 400juta dan sewa setahun 20 juta berati P/R-nya 400juta/20juta = 20.

Jika ekonomi normal, harusnya P/R-nya sekitar 10-15an. Jika di atas itu maka harga rumah di daerah tersebut overvalued dan sedang bubble dan bubble bisa pecah sewaktu-waktu. Alternatif penjelasan lain, harga sewa daerah situ terlalu murah dan akan segera naik.

Rule of thumb-nya, sebagai konsumen jika P/R 0-15 maka lebih baik beli. 16-20 adalah grey area, tergantung rencana tinggal berapa lama dan keadaan keuangan dan apakah memang benar-benar perlu punya rumah. Di atas 20 lebih baik sewa dan menunggu harga turun, atau sewa naik.

Ini perhitungannya hanya P/R yah, bukan keadaan keuangan kita. Yang jelas, kalau kita membeli rumah secara berhutang, maka total hutang kita(termasuk kredit mobil atau motor, kredit panci, dll) harus kurang 33% dari pendapatan kita perbulan agar tidak membebani.

Referensi:
http://www.bankrate.com/finance/mortgages/how-to-calculate-a-home-s-value-1.aspx
http://www.ryanprice.ca/2012/01/19/price-to-rent-ratio-what-is-it-and-how-can-it-be-used/

Disclaimer:
1. Ini adalah hasil riset on-off beberapa tahun terakhir.

2. Saya bukan ahli properti, think for yourself.

Man of Steel: Fundamentalisme dan Free Will

General Zod: No matter how violent, every action I take is for the greater good of my people.

Hari Rabu yang lalu aku menyempatkan diri untuk nonton Man Of Steel di biosokop dengan istri. Ini adalah salah satu film yang ditunggu-tunggu karena meski aku tidak terlalu ngefans dengan Superman, ide ceritanya cukup menarik. Dan film ini memang tidak mengecewakan walau bisa lebih baik lagi.

Ini adalah review film dan sedikit renungan, ada banyak spoiler di sini.

Man-of-Steel-EW-1Sebagai penonton, kita akan selalu membandingkan film Man of Steel dengan tipikal film superhero lainnya seperti trilogi Ironman, Captain America ataupun trilogi Batman. Jika kita bandingkan maka kualitas Man of Steel sedikit di bawah film-film superhero lainnya.

Sebenarnya susah juga sih bikin film Superman, susah untuk mencari penjahatnya karena Superman ini super-duper kuat dan punya kualitas manusia ideal, kuat, baik hati, tidak sombong dan suka menolong. Menelusuri masa mudanya pun tidak menarik, meski sering dibully dia masih terlihat sebagai moral high-ground, tidak membalas meski punya kekuatan luar biasa. Artinya susah mencari ambiguitas moral di cerita Superman. Beda dengan Batman yang yatim dari kecil dan ingin membalas dendam pada para penjahat Gotham atau Ironman yang alkoholik dan suka main wanita atau Captain America yang walau punya moral high-ground tidak didukung dengan kekuatan. Superman is too perfect.

So, akhirnya mereka mengeksplorasi sisi “dewa” bagi manusia. Superman di sini diposisikan sebagai seorang Mesias dan sebagai upaya untuk memberi kredibilitas, usianya 33 tahun saat event utama film ini berlangsung, sama dengan usia Yesus saat disalib. Read the rest of this entry

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 41 pengikut lainnya.